Pindah!
April 5th, 2007 by bluemonstaUntuk sementara blog nya pindah dulu ke tetangga dengan alamat http://bluemonsta.multiply.com disana fasilitasnya lebih lengkap dengan adanya video, wallpaper dan lain-lain.
Ok, see you soon!
Untuk sementara blog nya pindah dulu ke tetangga dengan alamat http://bluemonsta.multiply.com disana fasilitasnya lebih lengkap dengan adanya video, wallpaper dan lain-lain.
Ok, see you soon!
Sisa pertandingan Persib di Liga Indonesia XIII, kemungkinan besar bakal disiarkan langsung lewat siaran televisi. Kabar gembira untuk para bobotoh ini muncul menyusul tercapainya kesepakatan baru pihak Panpel Persib dengan pihak ANTV sebagai pemegang hak siar seluruh pertandingan LI. ANTV telah mengantongi hak siar LI selama 10 tahun.
Ketua Panpel Persib, Bambang Sukowiyono, menerangkan pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pihak ANTV yang diwakili Dedi Refa Utama. Dalam pembicaraan tersebut, kata Sukowiyono, ANTV menyatakan kesiapannya untuk mengusahakan siaran langsung untuk seluruh sisa pertandingan Persib.
‘Walau baru secara lisan, tapi kesiapan ANTV tersebut sangat menggembirakan bagi kami dan bobotoh,’ tutur Sukowiyono, Sabtu (17/3).
Kepada Tribun Sukowiyono mengakui, pihak ANTV belum memastikan akan menjadi stasiun televisi yang siap menyiarkan seluruh pertandingan tim Maung Bandung. Pasalnya seperti dijelaskan Sukowiyono, ANTV sudah memiliki jadwal untuk menyiarkan pertandingan-pertandingan lain.
‘Teknik pelaksanaanya memang belum tahu bagaimana. Apakah semua akan disiarkan langsung oleh ANTV, oleh Lativi, atau bahkan menunjuk stasiun televisi lokal Bandung,’ urai Sukowiyono yang Senin besok akan berangkat ke Jakarta untuk menindaklanjuti kesepakatan dengan ANTV.
‘Bila ini terwujud, mudah-mudahan pertandingan Persib lawan PSS Sleman bisa disiarkan secara langsung lewat televisi,’ harap Sukowiyono.
Walaupun belum benar-benar pasti, kesiapan ANTV untuk mengusahakan siaran langsung semua pertandingan Persib, patut disambut semua pihak. ‘Kita sudah mengetahui bagaimana akibatnya bila pertandingan Persib tidak disiarkan secara langsung,’ tambah mantan pemain dan asisten pelatih Persib ini.
Adanya program siaran langsung, diakui Sukowiyono, juga akan memberi peluang kepada Panpel pertandingan untuk mewujudkan kondisi nyaman dan aman saat menonton pertandingan di Stadion Siliwangi. ‘Walaupun ada siaran langsung, kami akan terus melakukan banyak evaluasi dan melakukan yang terbaik dalam menggelar pertandingan Persib,’ tuturnya.
TRIBUN JABAR

Bandung - Persib Bandung menyatakan siap menerima sanksi menyusul
terhentinya pertandingan melawan Persema Malang selama 1,5 jam di Stadion
Siliwangi.
Persib akhirnya menang 4-2 atas Persema. Namun tim Maung
Bandung ini terancam terkena sanksi karena menunda pertandingan selama 1,5 jam
menyusul masuknya ribuan para bobotoh ke dalam lapangan.
Sesuai
aturan PSSI dan BLI, setelah ditunda 2 x15 menit harusnya pertandingan
dihentikan dan dilanjutkan besok tanpa penonton. Namun partai Persib dan Persema
akhirnya harus dilanjutkan setelah kedua tim melakukan lobi dengan panitia
pelaksana.
Menurut Asisten Manajer Teknik Persema Asmuri, keinginan
Persema melanjutkan pertandingan itu guna menolong Bandung dan bobotohnya. "Kami
bisa saja meninggalkan pertandingan setelah 2 x 15 menit penundaan,"
ujarnya.
"Tapi apa sanggup aparat keamanan dan elemen Bandung mengamankan
sekian puluh ribu bobotoh, saya yakin kalau ditinggalkan Bandung akan
habis terbakar," kata Asmurai usai pertandingan.
"Secara psikologis
pemain Persema sudah down dengan aksi bobotoh yang masuk ke lapangan,
makanya masyarakat Bandung harus beryukur. Anggap saja ini sebagai hadiah bagi
Persib yang hari ini ulang tahun," ujarnya.
Namun, Asmuri juga berharap
PSSI dan BLI menjalankan dengan tegas atas aturan yang sudah ditetapkan. "Kita
sudah berbesar hati, kita harap aturan mengenai sanksi harus ditegakan,"
harapnya.
Sementara Asisten Pelatih Persib, Jajang Nurjaman juga mengaku
salut dan berterima kasih kepada Persema yang berbesar hati melanjutkan
pertandingan. Ia juga menyatakan Persib siap menerima sanksi atas kejadian
tersebut.
"Persib siap menerima sanksi. Ya bagaimana, meskipun ini bukan
kesalahan tim tapi kita siap menerima sanksi," kata Jajang.
Sesuai aturan
PSSI dan BLI, Persib terancam bermain di pertandingan
usiran.
-Erna Mardiana - detikSport-
Saya mohon bantuan dari temen2 semua.
Trus pilih option no.2 yaitu The Spirit Angels
OK … ok …ok .. ok?
Seperti biasa, lagi2 kita merinding, disini kita
merasa kecil, atas apa yang kita namakan kebanggaan. Teriakan2
semangat, ledakan2 emosi, alunan lagu2 patriot demi apa yg kita
banggakan.
Seperti biasa, cucuran keringat basahi bajunya, terkadang mereka
harus menahan rasa sakit, terkadang ada pula tetesan darah, walau
tetesan hujan terus basahi kepala, demi sebuah kebanggan. Mereka
berjuang di atas lumpur untuk apa yang kita banggakan.
-JIWA RAGAAAA KAAAAAMIIIIII!-
Gini nih kalo kalah jd pengen so’-so’ analisis.

Awal-awal babak pertama PERSIB lebih berinisiatif nyerang, walaupun secara permainan masi seimbang. Di babak ini PERSIB memakai sistem mixed pass play dengan tempo lambat. Sedangkan PSDS bermain counter attack dengan direct play cepat. Menit 30an konsentrasi para pemain PERSIB menurun. Di saat inilah pemain PSDS dapat memanfaatkan kelemahan, 2 gol PSDS tercipta di menit 31 & 36. kedua gol diawali dengan pergerakan tanapa bola dari lini kedua. Ansyari Lubis dan M Rizal tiba2 dapat berada di dalam kotak penalti tanpa kawalan. Dengan placing shot keduanya dapat mencetak gol, masing2 ke pojok kanan bawah, dan me-lob melewati kepala Tema Mursadat.
Di babak kedua Iurie memasukkan Gilang Angga menggantikan Sonny. PERSIB mengubah cara permainan menjadi lebih menyerang dengan short play tempo cepat. Di babak ini PERSIB bermain baik. Apalagi setelah suwita masuk menggantikan Nyeck Nyobe, penguasaan bola mutlak dikuasai oleh PERSIB. Beberapa kesempatan shot yg dilakukan oleh Arief, Eka, Barkaoui, Cabanas, Salim, dan suwita belum mampu merobek gawang PSDS.
Secara keseluruhan permainan kedua tim baik. PSDS bermain fair dan disiplin penuh, dan layak memenangkan pertandingan.
Yg terjadi di Lubuk Pakam :
-Untuk pertama kalinya Eka Ramdani menjadi kapten.
-PERSIB bermain lebih baik dari pertandingan pertama lawan Persiraja.
-Salim & Barkawi sudah bisa bermain penuh 90 menit
-Gilang & Aji mendapat kesempatan main
-Konsentrasi menjadi masalah utama
-Koordinasi di lini belakang harus di tingkatkan
-Nova Arianto mengalami cedera
-Faktor non teknis (kondisi lapangan, merk bola, magic) tidak layak jd alasan
Source : nonton siaran tunda BandungTV
JiwaRagaKami -blu3monsta@yahoo.com-

Selama Pre-Season tahun 2007 ini, Persib Bandung telah mengadakan 13 pertandingan Uji coba dengan klub intern Persib, Klub-klub lokal, dan Klub dari Luar Negeri. Dengan hasil 8 kali menang, 3 kali seri, dan 2 kali kalah. Tapi yg terpenting dari laga Uji coba adalah bagaimana menganalisis permainan Persib sendiri untuk menghadapi Liga Indonesia 2007.
Persib 3 vs 1 Jatira
-Cabanas
-Nova Arianto
-Dicky Firasat
Persib 4 vs 0 PalBer
-Zaenal Arief
-Lorenzo Cabanas
-Nova Arianto
-Christian Bekamenga
Persib 9 vs 1 Bina Pakuan
-Zaenal arief (2)
-Redouane Barkaoui (2)
-Eka Ramdani
-Nova Arianto
-Christian Bekamenga (3)
Persib 11 vs 0 Bupa
-Lorenzo Cabanas (2)
-Redouane Barkaoui (2)
-Eka Ramdani (2)
-Cucu Hidayat
-Christian Bekamenga (4)
Persib 7 vs 0 IPI
-Lorenzo Cabanas (3)
-Nova Arianto
-Nyeck Nyobe
-Gilang Angga
-Christian Bekamenga
Persib 3 vs 1 Selangor FC
-Nova Arianto
-Christian Bekamenga (2)
Persikab 1 vs 2 Persib
-Christian Bekamenga (2)
Persib 0 vs 2 Timnas
Persija 0 vs 0 Persib *jusuf Cup*
PSM 3 vs 2 Persib *jusuf Cup*
-Nova Arianto
-Redouane Barkaoui
Persib 0 vs 0 Pra PON Jabar
Persib 2 vs 2 Ulsan Hyundai
-Zaenal Arief
-Salim alaydrus
Persika 1 vs 3 Persib
-Redouane Barkawi
-Nova Arianto
-Zaenal Arief
Kebijakan tangan besi yang diberlakukan PSSI
dan BLI dalam hal sponsorship menyebabkan klub sulit mendapatkan
pasokan dana dari perusahaan-perusahaan kakap.
Karena Liga Indonesia dan Copa Indonesia disponsori
perusahaan rokok, kedua institusi tersebut melarang perusahaan sejenis
mensponsori klub. “Fair saja, hanya perusahaan-perusahaan rokok yang
paling getol berniat berinvestasi ke klub, sementara hal itu dilarang
PSSI dan BLI,” ungkap Satrija Budi Wibawa, Ketua Harian Arema.
Kondisi ini jelas menyulitkan Arema, yang disponsori Bentoel
dan anak perusahaannya X-Mild. “Jika memasang logo di kostum saja tak
boleh, benefit apa yang didapat sponsor kami?” sebut Satrija.
Pasokan dana Rp 14 miliar dari kedua perusahaan tak sebanding
dengan keuntungan promosi yang seharusnya mereka dapatkan. Kesulitan
serupa juga dialami kampiun LI, Persik. Gudang Garam, yang selama ini
membantu pendanaan klub Macan putih, terpaksa menepi karena aturan
tersebut. “Persoalannya item pelarangan terdapat dalam klausal kontrak
dengan sponsorship kompetisi. Kami tak mungkin melanggar karena pasokan
dana mereka cukup besar menjamin kelangsungan liga,” jelas Andi
Darussalam, Direktur Eksekutif BLI.
Pola itu agaknya harus diubah untuk mempermudah klub
mendapatkan sponsor. Seperti halnya yang diberlakukan FA Inggris, yang
tak melarang klub-klub memajang logo-logo sponsor walau kompetisi
seperti Piala Liga sudah disponsori perusahaan tertentu. (yos/idr) http://bolanews.com
![]()
Singkirkan Barikade Penghalang
Untuk mencapai tataran kompetisi Liga
Indonesia yang ideal perlu penguatan infrastruktur. Barikade yang
menghalangi cukup banyak. Misalnya faktor ekonomi biaya tinggi
menyangkut keamanan atau transportasi.
Kesulitan menarik sponsor selama ini menjadi keluhan sebagian
besar klub. Banyak perusahaan kakap terkesan emoh berinvestasi karena
citra buruk sepakbola Indonesia.
Kalaupun ada perusahaan yang mau menggelontorkan duit,
tujuannya bukan mengejar profit, tapi lebih karena merasa tidak enak
hati dengan penguasa daerah yang duduk di kepengurusan klub.
“Jujur saja, sebagian besar dana sponsor yang masuk merupakan
injekan penguasa daerah. Dengan bekal surat sakti, perusahaan baru mau
menyetor uang. Jumlahnya tak besar karena mereka juga berhitung uang
tersebut sifatnya bukan investasi. Seratus persen tak akan kembali,”
ujar salah satu pengurus klub di luar Jawa.
Pola itu jelas tak sehat sehingga wajib diubah. Klub wajib
meyakinkan pihak sponsor bahwa investasi di sepakbola nasional
menguntungkan.
“Hal ini berkaitan dengan pencitraan. Sponsor pasti tak akan
ragu berinvestasi jika LI tak dibumbui kekerasan. Biar bagaimana pun
mereka ingin citra produk mereka tak ternoda karena pemberitaan negatif
di media,” tutur Ferry Mursidan Baldwan, anggota DPR dari Komisi II.
Toh walau digandoli citra negatif, LI tetap dilirik sponsor.
Hal itu bisa dilihat maraknya perusahaan apparel dalam ataupun luar
negeri masuk ke klub beberapa tahun belakangan. “Memang bentuknya bukan
dalam uang cash, tapi produk. Tapi, setidaknya dari sisi bisnis hal itu
cukup meringankan pengeluaran klub. Paling tidak mereka bisa menghemat
Rp 300 jutaan per musim,” ungkap Ali Muhan, sales manager apparel
Kelme, sponsor Persebaya dan Pelita Jaya.
Jumlah itu memang belum ada apa-apanya dibanding pengeluaran klub ke berbagai pos. Ambil contoh Persis Solo.
Di luar kontrak pemain dan pelatih yang hampir Rp 9 miliar,
biaya transportasi serta akomodasi menjadi pos terbesar lain yang
menyita pengeluaran Persis musim 2007.
Nonton Gratis
Menurut perhitungan, pos ini menyedot dana tak kurang dari Rp 6
miliar. Berada di Wilayah Timur mengharuskan Persis untuk lebih sering
bepergian dengan pesawat terbang yang biayanya relatif lebih mahal jika
dibanding dengan menggunakan transportasi darat.
Untuk dua kali bermain di Papua saja, melawan Perseman dan
Persipura, Persis sudah harus mengeluarkan dana sebesar Rp 900 juta
sebagai biaya transpor dan akomodasi mereka.
Angka itu kian membengkak saat Persis tampil di Copa
Indonesia. Bagaimana dengan Persik dan Arema, yang juga mewakili
Indonesia di Liga Champion Asia? Tentu biaya yang mereka keluarkan
lebih besar lagi.
Untuk menambal pos-pos di atas klub-klub perlu mencari sumber
pendanaan lain. Salah satu yang bisa digali mungkin dari penjualan
tiket pertandingan.
Paradigma “nonton gratis” suporter perlu diubah. Arema
termasuk salah satu tim yang sukses menyadarkan suporternya, Aremania,
agar mau membeli tiket.
“Memang tak mudah, butuh pendekatan bertahan-tahun. Syukurnya
Aremania menyadari demi membantu kelangsungan hidup klub
kesayangannya,” ujar Satrija Budi Wibawa, Ketua Harian Arema.
Setiap musim kubu Singo Edan bisa mengeruk dana segar tak
kurang dari Rp 4 miliar melalui penjualan tiket. Persija dari penjualan
tiket ke anggota resmi The Jakmania mencapai Rp 1,19 miliar. “Angka
tersebut muncul dengan asumsi setiap pertandingan home 7.000 anggota
The Jak membela tiket resmi seharga Rp 10 ribu,” ujar Danang Ismartani,
Ketua The Jak.
Sayang kucuran dana segar tersebut tak jelas larinya ke mana.
“Alangkah idealnya jika uang lari ke kas klub. Angka itu bisa bertambah
lagi kalau kesadaran anggota meningkat. Jika 28 ribu anggota The Jak
membeli tiket resmi bisa dibayangkan pemasukan yang bisa dicapat,”
tambah Danang.
Pemerataan jatah siaran langsung stasiun televisi juga lumayan membantu menambah pemasukan klub. Belum lagi
jika klub bisa memberdayakan penjualan pernak-pernik klub.
“Pemasukan klub bisa dioptimalkan dengan dukungan audit publik
yang transparan. Jangan sampai ke depan ada orang-orang yang
memanfaatkan lahan sepakbola sebagai tempat hidup,” ungkap Danang.
(Yosia/Aning/Indra/Budi) http://bolanews.com/
![]()
Efisiensi dan Investasi lewat Pemain
Salah satu belanja atau pengeluaran terbesar
klub adalah pos gaji dan kontrak pemain, terutama pemain asing. Padahal
sebenarnya hal tersebut bisa direduksi jika klub mengembangkan
pembinaan secara benar.
Contoh paling moderat bisa dilihat dari langkah yang diambil
PSDS dan PSM. Kedua klub ini dalam beberapa tahun terakhir terus
mengembangkan seleksi pemain muda nonbintang yang kini terbukti
potensial.
Juku Eja sudah dua tahun ini muncul dengan program Pra-Ligina
yang diusung pelatih Syamsudin Umar. Lewat cara itu PSM mampu menjaring
sekitar 30-an pemain setiap tahun. Ardan Aras, Iqbal Samad, Yusuf
Hamzah, Nanang Hendrawan adalah hasil dari program itu yang kini
menjadi pilar PSM dan timnas U-23. Bahkan lewat program itu mereka juga
memasok pemain ke klub lain, seperti Asmar Abu (Persis), Fachrudin
(Persiba), Satriyo (PSMS), dan Rabaya (PSS), dengan status pinjaman.
Hal sama juga dilakukan manajemen PSDS. Untuk mendapatkan
pemain lokal misalnya, mereka membuka pendaftaran secara terbuka.
Hasilnya, tak kurang dari 162 pemain dari berbagai daerah di Sumatra
ikut seleksi. Hal ini jelas amat berbeda dengan Persija, yang selalu
mengeluarkan uang ratusan juta guna mengontrak pemain bukan binaan
sendiri.
Sayang, BLI atau PSSI kurang melindungi program itu. Pasalnya
dalam aturan FIFA, jika ada pesepakbola berusia di bawah 21 tahun
pindah ke klub lain, klub lama seperti PSM dan klub amatir yang membina
dari awal tetap berhak atas uang pembinaan dari klub baru hingga pemain
berusia di atas 21 tahun. Inilah salah sumber pemasukan klub yang
hingga kini tak pernah disentuh oleh klub dan tidak dilindungi PSSI!
Soal pemain asing, sebaiknya langsung berburu ke negeri
asalnya. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang pengurus PSDS,
Herman Sagita, langsung terbang ke Cili dan Paraguay. Hasilnya, Herman
mampu "menculik" empat pemain sekaligus, satu dari Cili dan tiga dari
Paraguay.
"Kalau ditotal, aku hanya mengeluarkan uang 3 miliar rupiah.
Jumlah itu sudah termasuk kontrak dan gaji, biaya transportasi,
penginapan selama dua minggu plus fee untuk agen," kata Herman. Jumlah
itu jauh lebih kecil ketimbang pengeluaran satu pemain asing yang bisa
mencapai angka satu miliar rupiah.
Menurut Herman, keuntungan lain jika memburu sendiri adalah
kita tahu secara jelas kemampuan pemain yang diminati. Hal sama pernah
dilakukan Persija saat memboyong Emanuel de Porras cs. dari Argentina
empat musim lalu. Saat itu gaji de Porras sebulan hanya 5.000 dolar AS
atau 60.000 dolar setahun (Rp 540 juta) jauh di bawah harga yang kini
ia tawarkan, sekitar Rp 1,7 miliar. (wis/jam/ary) http://bolanews.com/